Site Map

Indahnya Panorama Baturaden

Baturraden adalah keindahan yang memancar dari lereng Gunung Slamet. Lokasi wisata yang berjarak hanya sekitar 15 km dari kota Purwokerto, Jawa Tengah ini, tak hanya menyimpan panorama alam yang molek, tetapi juga cerita rakyat tentang Raden Kamandaka, atau Lutung Kasarung yang cukup akrab di masyarakat Indonesia.

Bali Deso Bangun Deso Masuki Tahap III

SEMARANG - Gerakan Bali nDeso mBangun Deso (BDBD) yang menjadi obsesi Gubernur Jateng H. BIBIT WALUYO untuk mencapai Visi : “Terwujudnya Masyarakat Jawa Tengah Yang Semakin Sejahtera, Mandiri, dan Berdaya Saing Tinggi”, kini hampir memasuki Tahap III dari 3 (tiga)

Bupati Rembang Raih Parahita Ekapraya Madya

REMBANG - Bupati Rembang H Moch Salim baru-baru ini meraih Penghargaan Parahita Ekapraya Madya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Balai Kartini Jakarta pada puncak peringatan Hari Ibu (22/12)

Museum Sangiran, Resmi jadi Warisan Budaya Dunia

Sejak dibangun pada 2005 silam, museum sangiran yang terletak di Kecamatan Kalijambe, akhirnya diresmikan penggunaannya oleh Wakil Menteri pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan yang juga sebagai pembuat Desain Engginering Plan Sangiran, Prof Dr. Windu Nuryati, PHD

Tampilkan postingan dengan label Anak dan Bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak dan Bayi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Saat Bayi Mengangkat Kepalanya Sendiri

Saat menggendong dan mengangkat bayi hal yang paling menjadi perhatian adalah kepala kepalanya karena sangat lunglai alias belum bertenaga. Kapan bayi bisa mengontrol kepalanya sendiri?

Setiap bayi yang baru lahir belum memiliki kontrol yang bagus dengan kepalanya, karena berat kepala lebih besar dari berat badannya. Hal ini juga karena otot lehernya masih cukup lemah sehingga belum bisa menopang kepala.

Namun nantinya ia akan mampu mengembangkan keterampilan penting ini, karena mengontrol kepala merupakan landasan dasar dari semua gerakan seperti duduk dan berjalan. Seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (6/10/2010) bayi mungkin akan mampu mengangkat kepala ketika berusia sekitar 1 bulan dan mampu menahan kepala saat duduk sekitar usia 4 bulan. Otot leher dan kontrol kepala akan semakin kuat dan mantap saat bayi berusia 6 bulan.

Berikut perkembangan bayi dalam mengontrol kepalanya:

Bayi baru lahir
Saat baru lahir, bayi akan sepenuhnya bergantung pada orang lain terutama ibunya untuk menopang kepala dan leher. Kondisi ini akan berlangsung setidaknya pada bulan pertama atau lebih. Hal ini bisa membantu meningkatkan intensitas kontak mata dan ikatan antara bayi dan orangtua, terutama saat dalam buaian.

Usia 1-2 bulan
Pada akhir bulan pertama, bayi sudah bisa mengangkat kepalanya sebentar serta memutar ke sisi kanan dan kiri ketika sedang berbaring. Sekitar usia 6-8 minggu, ia sudah cukup kuat untuk mengangkat kepala dan ketika digendong di bahu sudah bisa menahan kepalanya meskipun dengan gemetar dan tidak lama. Sehingga ibu atau pengasuh masih harus membantu menopangnya.

Usia 3-4 bulan
Bayi akan dapat mengangkat kepala hingga 45 derajat saat tengkurap dan bisa dilakukan berulang-ulang kali. Otot lehernya pun sudah berkembang dan mulai cukup kuat untuk menopang kepala, namun orangtua harus tetap memberikan perhatian karena bayi belum sepenuhnya bisa mengontrol kepala sendiri.

Usia 5-6 bulan
Saat usia 5 bulan bayi sudah menunjukkan otot lehernya yang semakin kuat. Dan saat berusia 6 bulan, bayi dapat menahan kepalanya dengan mantap dan tegak serta akan lentur ke depan saat orang lain membantunya menarik ke posisi duduk.

Setelah bayi bisa mengontrol kepalanya dengan baik dan kuat, maka ia akan melanjutkannya ke posisi duduk, berguling dan merangkak. Pengendalian terhadap posisi kepala juga diperlukan untuk menelan makanan padat dan duduk di kursi yang lebih tinggi.

http://www.detikhealth.com/read/2010/10/06/131525/1456903/764/kapan-bayi-bisa-mengangkat-kepalanya-sendiri

Kenali Penyakit Tahun Pertama Kehidupan Bayi

Seorang bayi sangat mungkin mengalami satu atau lebih penyakit selama tahun pertama kehidupannya. Hal ini karena bayi belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang optimal, sehingga rentan terkena penyakit.

Dikutip dari Babycenter, Jumat (27/8/2010) ada 6 penyakit yang sering menimpa bayi di bawah usia satu tahun, yaitu:

Konstipasi (sembelit)
Sembelit adalah suatu kondisi yang sangat umum terjadi dan kemungkinan mempengaruhi sekitar 30 persen anak-anak di usia tertentu. Biasanya bayi belum memiliki jadwal normal untuk buang air besar. Bisa saja bayi BAB setiap setelah makan, harus menunggu satu hari atau bahkan lebih dari sehari. Pola ini tergantung dari apa yang bayi makan, seberapa aktif bayi tersebut dan seberapa cepat ia mencerna makanan. Tapi nantinya orangtua akan bisa menemukan pola BAB bayinya.

Salah satu petunjuk yang menunjukkan bahwa bayi mengalami sembelit adalah frekuensi BAB-nya kurang dari biasanya, terutama jika sudah lebih dari 1-3 hari sehingga membuat ia merasa tidak nyaman. Selain itu feses yang keras atau kering juga merupakan salah satu gejala sembelit.

Batuk dan pilek
Hampir dipastikan semua bayi pasti pernah mengalami kondisi ini selama tahun pertamanya. Diperkirakan ada ratusan virus yang bisa menyebabkan pilek, dan bayi pada umumnya memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang. Selain itu bayi seringkali memasukkan tangan atau benda lain ke dalam mulut yang membuat mikroorganisme bisa masuk ke dalam tubuh bayi.

Pada umumnya bayi akan lebih sering mengalami batuk dan pilek pada musim dingin atau menghabiskan waktu lebih banyak di dalam ruangan, karena ruangan membuat virus mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. Rata-rata orang dewasa menderita pilek 2-4 kali dalam setahun, tapi anak-anak mendapatkan rata-rata 6-10 kali setahun.

Bayi yang mengalami pilek akan disertai dengan hidung meler, sulit bernapas, bersin, demam rendah atau batuk. Jika ia sudah sampai sulit bernapas, maka biasanya bayi akan lebih rewel karena merasa tidak nyaman. Jika kondisi ini lebih dari 10 hari, sebaiknya periksakan bayi ke dokter untuk mengetahui penyabab pastinya.

Ruam popok
Diperkirakan hampir semua bayi yang menggunakan popok akan mengalami ruam popok pada tahap tertentu, sekitar 1 dari 4 bayi mengalami ruam popok dalam usia empat minggu pertamanya. Ruam popok bisa terjadi jika bayi terlalu lama menggunakan popok kotor atau bayi memiliki kulit yang sensitif. Kondisi ini akan ditandai dengan kulit yang merah, kasar dan terasa sakit.

Hal ini disebabkan popok tidak bisa menyerap semua urin yang dikeluarkan oleh bayi, karenanya urin yang bercampur dengan bakteri dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan ruam popok.

Diare
Diare cenderung terjadi pada bayi jika frekuensi BAB-nya menjadi lebih sering, mudah mengeluarkan kotoran dan juga fesesnya lebih encer (berair). Diare dapat berlangsung selama beberapa hari dan kadang disertai dengan nyeri kram. Sebagian besar kasus diare pada bayi disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.

Diare yang disebabkan oleh infeksi virus dapat disertai dengan muntah-muntah, sakit perut, demam, menggigil dan timbul rasa sakit. Sedangkan diare akibat infeksi bakteri disertai dengan kram, darah pada feses, demam dna mungkin muntah. Tapi diare juga bisa disebabkan oleh alergi makanan dan reaksi obat antibiotik.

Infeksi telinga
Secara fisik bayi memang cenderung mudah terkena infeksi telinga. Hal ini dipengaruhi oleh ruang kecil di belakang gendang telinga yang terhubung ke bagian belakang tenggorokan oleh saluran kecil yang disebut tabung Eustachio. Segala sesuatu yang bisa mengganggu fungsi dari tabung ini seperti pilek atau alergi dapat meningkatkan risiko alergi. Hal ini karena tabung Eustachian pada bayi cukup rata.

Gejala bayi yang mengalami infeksi telinga seperti adanya perubahan mendadak dalam hal perilaku (menangis dan mudah tersinggung), bayi sering menarik atau menggosokkan telinganya, demam, merasa sakit, muntah dan kadang-kadang disertai diare.

Muntah
Bayi biasanya akan lebih sering muntah jika diperkenalkan pada beberapa makanan baru atau terlalu banyak makan. Kemungkinan penyebab lainnya adalah alergi, menelan sesuatu yang beracun, terlalu kuat saat batuk atau menangis.

Pada umumnya muntah yang terjadi pada bayi tidak berbahaya, selama kondisi tersebut tidak bersifat persisten. Jika terus menerus muntah bisa jadi sebagai tanda penyakit seperti gastroenteritis, infeksi saluran kemih, infeksi telinga atau sesuatu yang serius lainnya.

Selektif Memilih Popok Anak

Memilih jenis popok rasanya menjadi salah satu tugas terberat bagi seorang ibu. Beberapa dilemma antara fungsinya yang membuat praktis, harganya yang cukup mahal dan juga teknologi penyerapan yang semakin modern ataupun model yang makin stylish. Yang pasti prioritas seseorang berbeda-beda dalam memilih popok untuk anaknya.

Finansial
Dari segi harga, jika titik berat seorang ibu adalah penghematan, jenis popok kain tradisional mungkin menjadi pilihan utama dibandingkan dengan popok sekalipakai. Kualitas popok kain ini akan menurun setelah dicuci-pakai selama 5 kali. Hal ini bisa menyebabkan iritasi pada anak.

Ruam popok
Ruam popok terjadi karena penggunaan popok yang salah sehingga terjadi iritasi yang dipicu oleh urine dan feses bayi. Ruam ini biasanya berwarna kemerahan disertai lecet ringan dan gatal di daerah sekitar bokong yang cembung, di area kulit yang menempel dengan popok, dan pada daerah lipatan kulit.

Ruam ini bisa dicegah pada penggunaan popok kain karena orangtua bisa segera mengetahui jika popok bayi mulai basah. Sedangkan disposable diaper terkini yang dilengkapi dengan indicator untuk mengetahui tingkat kebasahan.

Isu lingkungan
Kelestarian bumi merupakan tanggung jawab seluruh manusia. Popok kain, membutuhkan proses pencucian, dengan penggunaan deterjen, pemborosan air, pemborosan listrik, dll. Sementara beberapa jenis clodi mengggunakan micro fiber yang sulitterurai dalam tanah sebagai bahan dasar pelapis. Sementara popok sekali pakai yang harus diganti minimal 8 kali sehari atau nyaris 3.000 popok per tahun untuk setiap bayi. Bekas popok yang mengandung banyak bahan kimia itu akan menggunung dengan waktu daur ulang alami 200-500 tahun.

Potty training
Penggunaan popok kain mempercepat potty training, logikanya adalah anak bisa langsung merasakan ketidaknyamanan sesaat setelah buang air kecil atau buang air besar jika dia mengenakan popok kain. Bukan begitu halnya dengan penggunaan pada popok sekali pakai, karena anak akan merasa selalu kering hingga limit kemampuan popok tersebut. Dengan merasa basah, akan otomatis mengajak anak dengan sendirinya ke toilet.

Praktis
Alasan utama penggunaan popok sekali pakai adalah kepraktisannya. Terutama pada saat berpergian atau pada saat anak tidur pada malam hari.

Orang Tua Wajib Dukung Kreatifitas Si Kecil

Pada dasarnya semua anak adalah kreatif, dan selalu ingin tau hal-hal baru, hanya saja yang membedakannya adalah pembatasan-pembatasan dari lingkungan dan rasa antusiasme si Kecil yang bervariasi. Sebagai orangtua, kewajibannya adalah mengexplor bakat dan minat si Kecil sejak dini. Tidaklah sulit karena dengan sendirinya kemampuan-kemampuan yang menonjol akan keluar dan terlihat dengan jelas, orang tua hanya perlu memfasilitasi dan mengembangkannya sebagaimana aslinya.

Tidak menuntut keinginan

Sosok orangtua yang baik bukanlah yang menuntut segala sesuatu sesuai dengan keinginannya. Contoh: menginginkan si Kecil menjadi ahli musik sedangkan bakat si Kecil lebih suka menggambar yang menjurus kepada seni rupa. Hal ini tidak akan berhasil karena ketidakcocokan minat. Sebagai orangtua, harus dapat menerima kelebihan dan kekurangan si Kecil. Selalu dapat mensugesti bahwa dia mampu.

Anak adalah unik

Seringkali orangtua membandingkan si Kecil dengan anak lain, seolah-olah selalu saja ada kekurangan si Kecil. Orangtua harus selalu menyadari bahwa anak adalah unik. Masing-masing individu sama dengan halnya dengan orang dewasa, tidak suka dibandingkan dengan orang lain, dan tidak akan bisa disamakan dengan anak lain.

Kreatifitas multidimensi

Wujud kreatifitas si Kecil bisa saja berbeda-beda, setiap pulang dari sekolahnya mendapatkan hal baru yang ia sukai, akan langsung ia pamerkan kepada orangtua di rumahnya, namun, jika kreatifitas tersebut tidak ia sukai dan tidak mengambil sedikitpun perhatiannya, dengan dipaksapun akan sulit dikembangkan. Contoh : si Kecil mendapat cara-cara cepat dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam matematika, ia akan mencoba memamerkannya kepada orangtua bahwa ia bisa dengan cepat dalam berhitung, namun pada saaat ada pelajaran seni tari di sekolah, ia tidak akan mengulanginya di rumah. Kreatifitas itu mulitidimensional, dan setiap anak memiliki dimensi kreatifitasnya sendiri-sendiri.

Memberi contoh

Memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap apa-apa yang tengah dikerjakan oleh anak-anak kita, misalnya dengan ikut melakukan aktifitas bersama anak dan memperkenalkan hal baru dan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan aktifitas tersebut. Beri tahu cara yang baik, resiko serta keuntungannya dan biarkan si Kecil berfikir tentang hobby barunya itu. Berikan waktu, tempat, kemudahan dan bahan-bahan agar si Kecil semakin kreatif.

Lakukan dengan santai

Biasanya orangtua lebih menyukai melihat langsung hasil jadi dari kreatifitas anak, dan bukan proses belajar mencapai tujuannya. Padahal dalam prose situ akan terlihat dengan jelas bagaimana mereka memecahkan masalah, berusaha dan menikmati keberhasilan. Lakukan proses ini dengan santai dan dengan perspektif si Kecil, bukan atas dasar cara pandang seorang dewasa. Ketegangan dankekakuan hanya akan membuat si kecil tidak enjoy dalam mengembangkan bakatnya.

Selalu kembangkan ciri anak kreatif sebagi berikut :
  •     Spontan
  •     Rasa ingin tahu
  •     Lancar berpikir
  •     Detail oriented
  •     Orisinalitas ide

Senin, 19 Desember 2011

Kenali Tempat Tidur Bayi yang Aman

Perlengkapan tidur yang dibutuhkan agar seorang bayi dapat tidur dengan aman dan nyaman. Prinsip pemilihannya tempat tidur yang utama adalah keamanan. Namun,  perlu juga diingat, bahwa tidak ada peralatan sehebat apapun yang dapat menggantikan orang tua yang penuh kasih sayang dan responsif.

Jika kita menonton film dari negara barat, kita dapat melihat bahwa sejak bayi, anak memiliki kamar sendiri. Hal ini tentunya berbeda dengan budaya di negeri kita, dimana pada umumnya bayi tidur bersama orang tua. Ada sesuatu yang sangat nyaman tentang kebersamaan baik bagi anak yang baru lahir maupun bagi orang tua. Biasanya bayi tidur bersama orang tua pada satu tempat tidur. Ada juga yang menggunakan ayunan, tempat tidur gulung, atau tempat tidur bayi di dekat tempat tidur (co-sleeper).

Jika anak Anda tidak terlalu aktif, ayunan atau tempat tidur gulung dapat digunakan selama dua sampai tiga bulan pertama. Pastikan kedua peralatan memiliki alas yang cukup luas sehingga tidak akan roboh.

Ketika tiba waktunya memilikih sebuah tempat tidur bayi, maka sisi yang terpenting adalah tempat tidur yang akan menjaga anak dalam keadaan aman. Ada beberapa sisi praktis yang perlu diperhatikan:

  • Penutup samping harus bisa naik dan turun dengan mudah dan tidak menimbulkan suara.
  • Penutup yang bisa dioperasikan dengan satu tangan akan memberikan kemudahan terutama saat Anda sedang membawa bayi atau popok dan pakaian basah
  • Tempat tidur kokoh dan tidak bergoyang-goyang atau berderit.
  • Hati-hati dengan tempt tidur yang terbuat dari baja karena rentan goyang atau memiliki bagian yang tajam pada pengelasannya.
  • Cari tempat tidur yang mudah dipasang dan tidak memerlukan banyak alat.


Setelah memilih tempat tidur yang baik, kita perlu memperhatikan beberapa petunjuk atau rekomendasi berkaitan dengan risiko bahaya yang dihadapi oleh bayi saat tidur, seperti kehabisan napas, tegencet, tercekik, dan jatuh. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi berumur 1 sampai 12 bulan (paling sering pada bayi berumur 2 – 4 bulan). Di Amerika Serikat 2500 kasus SIDS terjadi setiap tahunnya. Sebagian besar kasus SIDS berkaitan dengan tidur bayi dan bayi yang meninggal karena SIDS tidak menunjukkan tanda-tanda penderitaan.

Faktor risiko utama SIDS adalah posisi tidur bayi yang tengkurap. Berbagai penelitian menunjukkan tidur dalam posisi tengkurap meningkatkan insiden SIDS. Beberapa peneliti memiliki dugaan bahwa posisi tengkurap memberikan tekanan pada rahang bayi, sehingga mempersempit jalan napas bayi.

Teori lain adalah bahwa dalam posisi tengkurap terdapat risiko bayi menhirup kembali udara yang telah dihembuskannya, terutama jika bayi tidur pada matras yang lembut atau dengan adanya mainan boneka, atau bantal di dekat wajahnya. Benda-benda tersebut dapat memperangkap udara yang dihembuskan bayi, sehingga kadar karbondioksida terakumulasi dan kadar oksigen menurun.

Beberapa bayi tidak memiliki refleks bernapas yang berkembang baik, sehingga tidak bisa berjuang untuk bernapas jika sebuah selimut atau benda lain menutup jalan napasnya. Bayi-bayi ini kemungkinan memiliki kelainan pada nukelus arkuat-nya, yaitu bagian otak yang mengontrol pernapasan dan reaksi bangun dari tidur.

Karena itu, untuk mencegah atau memperkecil risiko SIDS sampai bayi berusia 12 bulan, ikuilah petunjuk-petunjuk ini: 
  •     Baringkan selalu anak dalam posisi terlentang, wajah menengadah ke atas.
  •     Jangan meletakkan bantal, boneka, selimut berbulu, atau alat lain di tempat tidur bayi.
  •     Gunakanlah matras yang kaku dan ukurannya pas dengan ukuran tempat tidur.
Berdasarkan penelitian, tidak ada peningkatan risiko tersedak pada bayi yang tidur terlentang. Namun, pada bayi dengan kondisi medis tertentu, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD) atau kelainan saluran napas atas tertentu, tidur dalam posisi tengkurap lebih baik. Karena itu, konsultasikanlah dengan dokter anak Anda mengenai keadaan-keadaan khusus ini. Selain itu, untuk mencegah perubahan bentuk kepala (terdapat bagian yang sedikit mendatar) karena terlalu terlentang terlalu lama, posisi bayi dapat diubah-ubah secara teratur. Pada siang hari, dalam pengawasan, bayi dapat diletakkan pada posisi tengkurap lebih sering.

Bayi sering tidak memiliki kekuatan atau koordinasi untuk membebaskan diri jika sesuau menggencet lehernya. Karena itu, perlu dipastikan:


  • Tebal rusuk tempat tidur bayi tidak lebih dari 2 3/8 inci (± 6 cm).
  •  Ukuran desain-desain potongan papan atas atau papan bawah tempat tidur. Potongan-potongan dekoratif yang diameternya lebih dari 2 3/8 inci (± 6 cm) dapat membuat kepala bayi tergencet di sela-selanya.
  • Tebal tonggak-tonggak sudut tidak lebih dari 1/16 inci (± 0,2 cm), karena selimut dan bahan kain lainnya dapat tersangkut dan kemudian melilit leher anak.
  • Mobil-mobilan dan mainan lain diletakkan di luar jangkauan anak yang sudah cukup besar untuk duduk
  • etak tempat tidur bayi jauh dari jendela dengan tali-tali yang menjuntai dari korden.


Saat anak sudah mulai dapat memegang benda-benda, ada kemungkinan ia akan memasukkan benda-benda tersebut ke dalam mulutnya (usia 5 – 6 bulan), sehingga nak bisa tercekik. Untuk mencegahnya, maka:

Berhati-hati dengan mainan-mainan yang bagian-baian kecilnya bisa patah, seperti boneka binatang dengan mata kancing atau truk mainan dengan ban yang longgar. Benda apa pun yang diameternya < 1 ¾ inci (± 4,5 cm) cukup kecil untuk bisa masu ke dalam saluran napas bayi.
Periksa tempat tidur bayi kalau ada serpihan-serpihan plastik.

Sedangkan untuk mencegah bayi terjatuh atau benda-benda terjatuh menimpanya:


  • Jangan tempatkan tempat tidur bayi di bawah rak buku, gambar yang berat atau gantungan-gantungan di dinding yang bisa jatuh.
  • Pastikan penyokong matras tertempel rapat pada papan bawah dan papan atas
  • Pasang matras dengan posisi yang tepat.
  • Begitu anak telah mencapai tinggi 35 inci (± 89 cm) atau lebih, atau bisa berdiri ke penutup tempat tidur, seudah waktunya memindahkan anak ke tempat tidur biasa.


Perlengkapan tempat tidur bayi sebaiknya bersifat minimalis. Semakin banyak bahan kain yang mengelilingi seorang bayi, semakin banyak kesempatan terjadinya bahya kehabisan napas dan muncul tungau debu. Tungau debu merupakan salah satu alergen (pencetus reaksi alergi) yang paling umum. Bahan nilon dan sintetis lainnya bisa mengerut dan meningkatkan risiko bahaya tercekik.

Lampu malam dekat tempat tidur bayi bisa berbahaya. Begitu bayi yang sudah bisa merangkak, berjalan, dan menggenggam dapat meraih lampu tersebut dan ada kemungkinan bayi mengalami luka bakar. Karena itu, jika akan menggunakan lampu malam perlu diperhatika beberapa hal. Pertama, sambungan perlu diletakkan pada dinding tinggi, di luar jangkauan anak. Kedua, jauhkan lampu-lampu tersebut dari gorden atau bahan-bahan lain yang mudah terbakar. Lampu yang dapat dipilih adalah neon mini yang lebih redup dari lampu standar.

Beberapa bayi ternyata bisa tertidur lebih mudah bila di sekitarnya terdengar dengungan lirih atau “suara bising”. Untuk itu, Anda bisa memutar radio atau telvisi pada channel “statis” dan membiarkannya menyala dengan suara rendah. Musik yang lembut juga memiliki efek menenangkan yang sama. Namun, Anda harus waspada, jika anak terbiasa tertidur dengan suara-suara atau sensasi ini, maka ia akan sulit tidur jika tidak ada suara-suara tersebut.( dr. Puti Naindra Alevia)